Minggu, 31 Januari 2010

kungfu muslim

Contents
[hide]

* 1 Bajiquan
* 2 Zhaquan
* 3 Qishiquan
* 4 Huihui Shiba Zhou
* 5 Xinyiliuhequan
* 6 Piguaquan
* 7 Tantui

Sabtu, 16 Januari 2010

Yoseikan

Yoseikan
Yoseikan adalah gaya yang relatif baru karate, didirikan oleh Hiroo Mochizuki. Hiroo lebih dari memenuhi syarat untuk membentuk gaya baru, sebagaimana ia dilatih di bawah Minoru Mochizuki ayahnya, salah satu master seni bela diri yang besar pada waktu.

Hiroo Dan juga memperoleh nilai di beberapa seni bela diri lain termasuk Wado Ryu, Aikido, Jujitsu, iaido dan Judo. Hiroo kemudian mampu memadukan semua komponen dari seni bela diri untuk membentuk apa yang sekarang Yoseikan.

Yoseikan Asal: Jepang
Pendiri Yoseikan: Hiroo Mochizuki 1960-an

Choy Li Fut Kung Fu

Choy Li Fut Kung Fu

Choy Li Fut adalah kombinasi dari banyak seni bela diri gaya cina (termasuk gaya Utara dan Selatan), dan mencakup lima hewan - Tiger, Dragon, Crane, Leopard, Snake.
Choy Li Fut dikembangkan pada 1836 oleh Chan Heung, yang belajar seni bela diri dari pamannya, Boxer Shaolin yang terkenal. Chan Heung menamai amalgation Kung-Fu gaya setelah dua guru, Fok Choy dan Li Yau-San. Fut berarti Buddha dalam bahasa Kanton, dan ditambahkan ke nama gaya barunya sebagai pengakuan pamannya dan Shaolin akar dari sistem.

Choy Li Fut adalah yang efektif sistem pertahanan diri dan berisi berbagai teknik, termasuk panjang dan jarak pukulan, tendangan, menyapu dan takedowns, titik tekanan mematikan serangan, bersama kunci, dan bergulat. Ini juga praktek banyak Kung Fu senjata tradisional.
Walaupun jarang di luar Cina, Choy Li Fut tetap menjadi sangat populer gaya seni bela diri di daratan Cina hari ini.
Asal Choy Li Fut Kung Fu: cina
Pendiri Choy Li Fut Kung Fu: Chan Heung, pada tahun 1836

Taido

Taido(躰道) adalah seni bela diri dari Jepang yang didirikan oleh Seiken Shukumine pada 1965. Nama "Taido" berarti "caranya tubuh dan jiwa" (internal dan eksternal). Taido punya sisilah di karate Okinawa. Pertama Seiken Shukumine mendirikan Genseiryu karate pada 1950an, tetapi pada tahun 1960-an beliau menemukan bahwa aliran bela diri beliau sudah jauh menyimpang dari karate, dengan demikian beliau mendirikan aliran bela diri baru dangan nama Taido
Teknik Dasar

Taido memiliki lima bentuk teknik dasar yaitu:

Sen-tai
Tehnik-tehnik yang termasuk di bentuk ini mencangkup gerakan-gerakan yang menggunakan rotasi vertikal tubuh petarung untuk menghasilkan tenaga serang.
Un-tai
Bentuk ini mencakup tehnik-tehnik gerakan yang menggunakan berat tubuh petarung untuk menghasilkan tenaga serang, dengan cara menghentakkan kaki atau melompat
Hen-tai
Bentuk ini mempergunakan perubahan momentum yang dihasilkan oleh perubahan sumbu tubuh untuk menghasilkan tenaga serang, bentuk ini banyak digunakan untuk menyerang sekaligus menghindar dari serangan lawan.
Nen-tai
Bentuk ini mempergunakan rotasi horizontal tubuh petarung untuk menghasilkan tenaga serang.

Ten-tai
Bentuk ini menggunakan gerakan-gerakan akrobatik untuk menembus pertahanan lawan dan sekaligus menghasilkan tenaga serang. Back flip, roll dan back spring adalah contoh dari gerakan-gerakan yang digunakan dalam bentuk ini.

[sunting] Filosofi

1. Moto Taido adalah "menyerang sekaligus bertahan". Tidak seperti cabang-cabang bela diri lainnya, Taido lebih mementingkan "evasion" (menghindari serangan) sedangkan tangkisan hanya digunakan sebagai pilihan terakhir. Ide ini didasarkan pada kenyataan dimana pada pertarungan sesungguhnya, perbedaan berat tubuh antara petarung bisa melebihi 20 kg, sedangkan dengan perbedaan sebesar 10 kg saja tangkisan sudah tidak dianjurkan untuk digunakan.
2. Menyerang dari sudut yang berbeda. Taido tidak menganjurkan serang langsung dari depan, melainkan memilih untuk menyerang bagian tubuh lawan yang tidak dijaga. Untuk mencapai tujuan ini, petarung taido tidak diam di satu tempat tetapi selalu bergerak memutari lawannya. Selain untuk mencari titik lemah lawan, tujuan dari gerakan memutar ini adalah untuk menyembunyikan gerakan tiba-tiba yang dapet diidentifikasikan lawan sebagai awal dari serangan.

[sunting] Pertandingan

Ada lima kategori yang dipertandingkan di taido yaitu:

Hokei
Adalah rangkaian tehnik yang sudah dijadikan standar, kedudukan hokei di taido dapat disamakan dengan kedudukan Kata di karate.
Dantai-hokei
Mempertandingkan hokei yang dilakukan per tim, tim ini biasanya terdiri dari lima personil.
Tenkai
Kategori ini adalah pertandingan yang hanya dapat ditemukan di Taido. Tiap tim terdiri dari enam orang petarung, dan enam orang ini akan merangkai sebuah koreografi bela diri lima lawan satu. Pemeran utama di koreografi ini akan mengalahkan lima orang lainnya dalam waktu 30 detik. Kategori ini biasanya sangatlah spektakuler layaknya adegan film action bela diri. [2]
Jissen
arti kata jissen adalah "pertarungan sesungguhnya" dengan demikian kategori ini dapat pula disamakan dengan sparring. Perbedaan taido dengan cabang bela diri lain dapat dilihat dari pertandingan ini. Karena lain dari bela diri yang lain, Taido tidak memiliki pembagian kelas berdasarkan berat tubuh, dan tidak juga menggunakan pelindung tubuh. Di kategori ini pula para petarung diuji dalam hal pengontrolan tehnik mereka, petarung diwajibkan untuk memukul lawan mereka menggunakan tehnik yang sempurna dengan kecepatan penuh namun secara terkontrol, mereka dilarang mencederai lawan mereka.
Dantai-jissen
ini adalah pertarungan lima lawan lima, dan tim yang berhasil mendapatkan 3 kemenangan akan maju ke babak selanjutnya.

Jogo do pau

Banyak sosiedade memandang pedang seperti senjata yang sakti, dan hanya dipegang oleh ksatria. Masyarakyat biasa tidak bisa menggunakan pedang, dan sebab itu mereka mengembankan macam-macam sistem untuk bisa bela diri atau berkelahi dengan tangan kosong saja atau dengan alat-alat sehari-hari. Siapa yang menggenal cerita tentang bagaimana karate muncur di Okinawa (dan kata “karaté” berarti “tangan kosong” di dalam bahasa Jepang) juga mengetahui bahwa sistem ini muncur bersamaan dengan kobudo, yang meliputi teknik dengan menggunakan parang, toya, alat dibuat dari kayu untuk menggiling padi, dll... Dengan alat-alat dan teknik ini petani atau nelayan bisa melawan, ketika memerlukan, samurai kuat yang menempati tanah-air mereka dan menggunakan katana-samurai atau tombak dan pedang lain-lain perang. Di Portugal juga masyarakyat biasa memunculkan sebuah sistem untuk membela diri menggunakan toya yang pengembala dan petani biasanya bahwa kemana-mana, sampai beberapa tahun yang lalu. Sistem ini dikenal dengan nama Jogo do Pau, kata “jogo” (membaca “jogu”) berarti “teknik” dan “pau” berarti “toya”, artinya ‘teknik toya’.

Pada abad XX, di semua tempat di Portugal, tapi lebih-lebih di Utara, masih terjadi biasanya orang-orang berkelahi dengan toya iha pasar dan di pesta-pesta untuk merayakan Santo-Santo katolik. Kadang-kadang satu desa melawan desa yang lain, kadang-kadang juga seorang melawan orang yang lain, kadang-kadang satu orang melawan banyak orang. Pada waktu itu ada banyak “puxador” (kata ini digunakan untuk memanggil para pesilat dari Utara) dan para “varredor de feiras” (orang-orang ini “jogador” (pesilat) terkenal yang mondar-mandir ke pasar-pasar dan pesta-pesta untuk menggusarkan para pesilat yang lain, dan, ketika menang, menunjukkan bahwa mereka yang terbaik). Mestre Monteiro, seorang dari daerah Fafe, menceritakan tentang pada waktu ayahnya masih remaja ada dua desa yang setiap hari-Minggu pergi misa di satu gereja kecil, dan setiap laki-laki, remaja dan tua, membawa toya, menurut adat, dan karena itu pada saat mereka berlutut di dalam misa toya kelihatan berdiri tegak, lebih tinggi dari kepala mereka. Pada waktu misa selesai, di tempat kosong yang dekat, para remaja dari dua desa ini biasanya bertengkar, karena hal-hal kecil (melempar kata-kata ke cewek dari desa yang lain, seorang laki-laki cemburu karena gadis yang dia suka jalan dengan laki-laki yang lain, memarahi karena seorang mengalikan air dari sawah mereka) dan mereka memecakan masalah lewat berkelahi dengan toya. Tapi jangan pikir mereka berkelahi sembarang tanpa aturan. Mereka mengikuti kode etik yang melarang pesilat memukul laki-laki yang tidak membawa toya, atau laki-laki yang sudah jatuh ke tanah. Para pesilat masih biasa menceritakan macam-macam cerita lama, seperti contohnya tentang seorang pria bernama "Manilha", yang, pada saat tiga orang menyerang dia di jalan, lawan mereka sampai dia menang dan menghilankan toya dari tangan mereka dan sesudah itu dia juga buang toyanya sendiri ke tanah. Dan cerita yang lain tentang seorang “jogador” terbagus, dari daerah-Porto, bernama Carvalho dan bekerja jual kerbau, yang di pasar tanggal 26 di desa-Anjeja, dekat Aveiro, bisa bertahan sendiri terhadap kelompok yang menyerangnya, sampai dia tersandung dan jatuh ke tanah. Pada waktu itu penyerang yang terbaik melompat ke sampingnya, siap untuk membela dia, dan berkata ke teman-temannya jika siapa yang ingin berkelahi seorang berani itu harus berkelahi dengan saya dulu. Di dalam sastra juga bisa menemukan banyak cerita tentang jogo do pau, contohnya di buku-buku dari para penulis seperti Aquilino Ribeiro dan Miguel Torga. Mulai dari 30an jogo do pau mulai hilang. Ada macam-macam alasan: perilaku autoritas polisi, yang, untuk menjauhi orang-orang bertengkar babak belur, melarang orang-orang menggunakan toya di tempat pasar; banyak laki-laki beremigrasi ke kota atau ke luar negeri; biasanya banyak orang mulai menggunakan senjata-api, dan ini membuat orang sudah tidak perlu bekerja keras untuk mempelajari teknik selama banyak waktu untuk membela dira dengan toya.
Mestres atau Pendekar-pendekar

Selama sejarah jogo do pau ada banyak “mestre” (pendekar) terkenal di berbagai daerah di Portugal. Kita bisa menyebut beberapa: Mestre António Nunes Caçador, Mestre Frederico Hopffer, Mestre Júlio Hopffer, Mestre Joaquim Baú, Mestre Calado Campos dan anaknya, Mestre Chula, Mestre Custódio Neves, Mestre Pedro Ferreira, Mestre Elias Gameiro, Mestre Nuno Russo, Mestre Manuel Monteiro, dll... Mestre Pedro Ferreira (lahir 26 Maret 1915 – meninggal 24 September 1996) sangat terkenal karena beliau memperkembangkan teknik sangat baik, mengabungkan Aliran Utara dengan Aliran Lisabon, semua aliran dikuasai olehnya. Banyak mestre yang sedang mengajar sekarang, dahulu mereka juga murid Mestre Ferreira. Ian melanjutkan praktek jogo do pau selama hidupnya, dan para pesilat yang lain masih menggangap beliaun seperti pesilat sangat baik sampai beliaun meninggal. Ian yang Mestre (Pendekar) di sekolah Ateneu Comercial de Lisboa, sampai akhirnya beliaun menyerahkan tangun-jawab ke Mestre Manuel Monteiro, pengantinya

Hapkido

Shin Son Hapkido merupakan salah satu olahraga bela diri yang berasal dari Korea di samping Taekwondo. Hapkido bergerak berdasarkan prinsip lingkaran yang memanfaatkan kekuatan lawan. Teknik-teknik dalam Hapkido antara lain meliputi pukulan, tendangan, kuncian, bantingan, jurus, serta latihan senjata.

pendiri
Choi Yong Sul

Seni pendahulu
Daito-ryu Aikijujutsu

Wing Tsun

Wing Tsun adalah sejenis seni bela diri yang merupakan salah satu cabang kung fu yang dikembangkan oleh murid Guru Yip Man bernama Leung Ting. Bela diri ini turut menjadi populer karena juga dipelajari aktor bela diri terkenal, Bruce Lee.

Capoeira

Capoeira merupakan sebuah olah raga bela diri yang dikembangkan oleh para budak Afrika di Brasil pada sekitar tahun 1500-an. Gerakan dalam capoeira menyerupai tarian dan bertitik berat pada tendangan. Pertarungan dalam capoeira biasanya diiringi oleh musik dan disebut Jogo. Capoeira sering dikritik karena banyak orang meragukan keampuhannya dalam pertarungan sungguhan, dibanding seni bela diri lainnya seperti Karate atau Taekwondo.

Capoeira adalah sebuah sistem bela diri tradisional yang didirikan di Brazil oleh budak-budak Afrika yang dibawa oleh orang-orang Portugis ke Brazil untuk bekerja di perkebunan-perkebunan besar. Pada zaman dahulu mereka melalukan latihan dengan diiringi oleh alat-alat musik tradisional, seperti berimbau (sebuah lengkungan kayu dengan tali senar yang dipukul dengan sebuah kayu kecil untuk menggetarkannya) dan atabaque (gendang besar), dan ini juga lebih mudah bagi mereka untuk menyembunyikan latihan mereka dalam berbagai macam aktivitas seperti kesenangan dalam pesta yang dilakukan oleh para budak di tempat tinggal mereka yang bernama senzala. Ketika seorang budak melarikan diri ia akan dikejar oleh “pemburu” profesional bersenjata yang bernama capitães-do-mato (kapten hutan). Biasanya capoeira adalah satu-satunya bela diri yang dipakai oleh budak tersebut untuk mempertahankan diri. Pertarungan mereka biasanya terjadi di tempat lapang dalam hutan yang dalam bahasa tupi-guarani (salah satu bahasa pribumi di Brazil) disebut caá-puêra – beberapa ahli sejarah berpendapat bahwa inilah asal dari nama seni bela diri tersebut. Mereka yang sempat melarikan diri berkumpul di desa-desa yang dipagari yang bernama quilombo, di tempat yang susah dicapai. Quilombo yang paling penting adalah Palmares yang mana penduduknya pernah sampai berjumlah sepuluh ribu dan bertahan hingga kurang lebih selama enam puluh tahun melawan kekuasaan yang mau menginvasi mereka. Ketua mereka yang paling terkenal bernama Zumbi. Ketika hukum untuk menghilangkan perbudakan muncul dan Brazil mulai mengimport pekerja buruh kulit putih dari negara-negara seperti Portugal, Spanyol dan Italia untuk bekerja di pertanian, banyak orang negro terpaksa berpindah tempat tinggal ke kota-kota, dan karena banyak dari mereka yang tidak mempunyai pekerjaan mulai menjadi penjahat. Capoeira, yang sudah menjadi urban dan mulai dipelajari oleh orang-orang kulit putih, di kota-kota seperti Rio de Janeiro, Salvador da Bahia dan Recife, mulai dilihat oleh publik sebagai permainan para penjahat dan orang-orang jalanan, maka muncul hukum untuk melarang Capoeira. Sepertinya pada waktu itulah mereka mulai menggunakan pisau cukur dalam pertarungannya, ini merupakan pengaruh dari pemain capoeira yang berasal dari Portugal dan menyanyikan fado (musik tradisional Portugis yang mirip dengan keroncong). Pada waktu itu juga beberapa sektor yang rasis dari kaum elit Brazil berteriak melawan pengaruh Afrika dalam kebudayaan negara, dan ingin “memutihkan” negara mereka. Setelah kurang lebih setengah abad berada dalam klandestin, dan orang-orang mepelajarinya di jalan-jalan tersembunyi dan di halaman-halaman belakang rumah, Manuel dos Reis Machado, Sang Guru (Mestre) Bimba, mengadakan sebuah pertunjukan untuk Getúlio Vargas, presiden Brazil pada waktu itu, dan ini merupakan permulaan yang baru untuk capoeira. Mulai didirikan akademi-akademi, agar publik dapat mempelajari permainan capoeira. Nama-nama yang paling penting pada masa itu adalah Vicente Ferreira Pastinha (Sang Guru Pastinha), yang mengajarkan aliran “Angola”, yang sangat tradisional, dan Mestre Bimba, yang mendirikan aliran dengan beberapa inovasi yang ia namakan “Regional”.

Sejak masa itu hingga masa sekarang capoeira melewati sebuah perjalanan yang panjang. Saat ini capoeira dipelajari hampir di seluruh dunia, dari Portugal sampai ke Norwegia, dari Amerika Serikat sampai ke Australia, dari Indonesia sampai ke Jepang. Di Indonesia capoeira sudah mulai dikenal banyak orang, disamping kelompok yang ada di Yogyakarta, juga terdapat beberapa kelompok di Jakarta. Banyak pemain yang yang berminat mempelajari capoeira karena lingkungannya yang santai dan gembira, tidak sama dengan disiplin keras yang biasanya terdapat dalam sistem bela diri dari Timur. Seperti yang pernah dikatakan oleh seorang penulis besar dari Brazil Jorge Amado, ini “pertarungan yang paling indah di seluruh dunia, karena ini juga sebuah tarian”. Dalam capoeira teknik gerakan dasar dimulai dari “ginga” dan bukan dari posisi berhenti yang merupakan karateristik dari karate, taekwondo, pencak silat, wushu kung fu, dll...; ginga adalah gerakan-gerakan tubuh yang berkelanjutan dan bertujuan untuk mencari waktu yang tepat untuk menyerang atau mempertahankan diri, yang sering kali adalah menghindarkan diri dari serangan. Dalam roda para pemain capoeira mengetes diri mereka, lewat permainan pertandingan, di tengah lingkaran yang dibuat oleh para pemain musik dengan alat-alat musik Afrika dan menyanyikan bermacam-macam lagu, dan pemain lainnya bertepuk tangan dan menyanyikan bagian refrein. Lirik lagu-lagu itu tentang sejarah kesenian tersebut, guru besar pada waktu dulu dan sekarang, tentang hidup dalam masa perbudakan, dan perlawanan mencapai kemerdekaan. Gaya bermain musik mempunyai perbedaan ritme untuk bermacam-macam permainan capoeira, ada yang perlahan dan ada juga yang cepat.

Capoeira tidak saja menjadi sebuah kebudayaan, tetapi juga sebuah olahraga nasional Brazil, dan para guru dari negara tersebut membuat capoeira menjadi terus menerus lebih internasional, mengajar di kelompok-kelompok mahasiswa, bermacam-macam fitness center, organisasi-organisasi kecil, dll. Siswa-siswa mereka belajar menyanyikan lagu-lagu Capoeira dengan bahasa Portugis – “Capoeira é prá homi, / mininu e mulhé...” (Capoeira untuk laki-laki, / anak-anak dan perempuan).

Di Indonesia, sama seperti di negara-negara yang lain, kemungkinan Capoeira akan semakin berkembang.

Beberapa gerakan dalam Capoeira:

1. Ginga
2. Handstand
3. Backflip
4. Headspin
5. Handstand Whirling
merupakan sebuah olah raga bela diri yang dikembangkan oleh para budak Afrika di Brasil pada sekitar tahun 1500-an. Gerakan dalam capoeira menyerupai tarian dan bertitik berat pada tendangan. Pertarungan dalam capoeira biasanya diiringi oleh musik dan disebut Jogo. Capoeira sering dikritik karena banyak orang meragukan keampuhannya dalam pertarungan sungguhan, dibanding seni bela diri lainnya seperti Karate atau Taekwondo.

Capoeira adalah sebuah sistem bela diri tradisional yang didirikan di Brazil oleh budak-budak Afrika yang dibawa oleh orang-orang Portugis ke Brazil untuk bekerja di perkebunan-perkebunan besar. Pada zaman dahulu mereka melalukan latihan dengan diiringi oleh alat-alat musik tradisional, seperti berimbau (sebuah lengkungan kayu dengan tali senar yang dipukul dengan sebuah kayu kecil untuk menggetarkannya) dan atabaque (gendang besar), dan ini juga lebih mudah bagi mereka untuk menyembunyikan latihan mereka dalam berbagai macam aktivitas seperti kesenangan dalam pesta yang dilakukan oleh para budak di tempat tinggal mereka yang bernama senzala. Ketika seorang budak melarikan diri ia akan dikejar oleh “pemburu” profesional bersenjata yang bernama capitães-do-mato (kapten hutan). Biasanya capoeira adalah satu-satunya bela diri yang dipakai oleh budak tersebut untuk mempertahankan diri. Pertarungan mereka biasanya terjadi di tempat lapang dalam hutan yang dalam bahasa tupi-guarani (salah satu bahasa pribumi di Brazil) disebut caá-puêra – beberapa ahli sejarah berpendapat bahwa inilah asal dari nama seni bela diri tersebut. Mereka yang sempat melarikan diri berkumpul di desa-desa yang dipagari yang bernama quilombo, di tempat yang susah dicapai. Quilombo yang paling penting adalah Palmares yang mana penduduknya pernah sampai berjumlah sepuluh ribu dan bertahan hingga kurang lebih selama enam puluh tahun melawan kekuasaan yang mau menginvasi mereka. Ketua mereka yang paling terkenal bernama Zumbi. Ketika hukum untuk menghilangkan perbudakan muncul dan Brazil mulai mengimport pekerja buruh kulit putih dari negara-negara seperti Portugal, Spanyol dan Italia untuk bekerja di pertanian, banyak orang negro terpaksa berpindah tempat tinggal ke kota-kota, dan karena banyak dari mereka yang tidak mempunyai pekerjaan mulai menjadi penjahat. Capoeira, yang sudah menjadi urban dan mulai dipelajari oleh orang-orang kulit putih, di kota-kota seperti Rio de Janeiro, Salvador da Bahia dan Recife, mulai dilihat oleh publik sebagai permainan para penjahat dan orang-orang jalanan, maka muncul hukum untuk melarang Capoeira. Sepertinya pada waktu itulah mereka mulai menggunakan pisau cukur dalam pertarungannya, ini merupakan pengaruh dari pemain capoeira yang berasal dari Portugal dan menyanyikan fado (musik tradisional Portugis yang mirip dengan keroncong). Pada waktu itu juga beberapa sektor yang rasis dari kaum elit Brazil berteriak melawan pengaruh Afrika dalam kebudayaan negara, dan ingin “memutihkan” negara mereka. Setelah kurang lebih setengah abad berada dalam klandestin, dan orang-orang mepelajarinya di jalan-jalan tersembunyi dan di halaman-halaman belakang rumah, Manuel dos Reis Machado, Sang Guru (Mestre) Bimba, mengadakan sebuah pertunjukan untuk Getúlio Vargas, presiden Brazil pada waktu itu, dan ini merupakan permulaan yang baru untuk capoeira. Mulai didirikan akademi-akademi, agar publik dapat mempelajari permainan capoeira. Nama-nama yang paling penting pada masa itu adalah Vicente Ferreira Pastinha (Sang Guru Pastinha), yang mengajarkan aliran “Angola”, yang sangat tradisional, dan Mestre Bimba, yang mendirikan aliran dengan beberapa inovasi yang ia namakan “Regional”.

Sejak masa itu hingga masa sekarang capoeira melewati sebuah perjalanan yang panjang. Saat ini capoeira dipelajari hampir di seluruh dunia, dari Portugal sampai ke Norwegia, dari Amerika Serikat sampai ke Australia, dari Indonesia sampai ke Jepang. Di Indonesia capoeira sudah mulai dikenal banyak orang, disamping kelompok yang ada di Yogyakarta, juga terdapat beberapa kelompok di Jakarta. Banyak pemain yang yang berminat mempelajari capoeira karena lingkungannya yang santai dan gembira, tidak sama dengan disiplin keras yang biasanya terdapat dalam sistem bela diri dari Timur. Seperti yang pernah dikatakan oleh seorang penulis besar dari Brazil Jorge Amado, ini “pertarungan yang paling indah di seluruh dunia, karena ini juga sebuah tarian”. Dalam capoeira teknik gerakan dasar dimulai dari “ginga” dan bukan dari posisi berhenti yang merupakan karateristik dari karate, taekwondo, pencak silat, wushu kung fu, dll...; ginga adalah gerakan-gerakan tubuh yang berkelanjutan dan bertujuan untuk mencari waktu yang tepat untuk menyerang atau mempertahankan diri, yang sering kali adalah menghindarkan diri dari serangan. Dalam roda para pemain capoeira mengetes diri mereka, lewat permainan pertandingan, di tengah lingkaran yang dibuat oleh para pemain musik dengan alat-alat musik Afrika dan menyanyikan bermacam-macam lagu, dan pemain lainnya bertepuk tangan dan menyanyikan bagian refrein. Lirik lagu-lagu itu tentang sejarah kesenian tersebut, guru besar pada waktu dulu dan sekarang, tentang hidup dalam masa perbudakan, dan perlawanan mencapai kemerdekaan. Gaya bermain musik mempunyai perbedaan ritme untuk bermacam-macam permainan capoeira, ada yang perlahan dan ada juga yang cepat.

Capoeira tidak saja menjadi sebuah kebudayaan, tetapi juga sebuah olahraga nasional Brazil, dan para guru dari negara tersebut membuat capoeira menjadi terus menerus lebih internasional, mengajar di kelompok-kelompok mahasiswa, bermacam-macam fitness center, organisasi-organisasi kecil, dll. Siswa-siswa mereka belajar menyanyikan lagu-lagu Capoeira dengan bahasa Portugis – “Capoeira é prá homi, / mininu e mulhé...” (Capoeira untuk laki-laki, / anak-anak dan perempuan).

Di Indonesia, sama seperti di negara-negara yang lain, kemungkinan Capoeira akan semakin berkembang.

Beberapa gerakan dalam Capoeira:

1. Ginga
2. Handstand
3. Backflip
4. Headspin
5. Handstand Whirling
master
0.Mestre Bimba
1.Mestre Pastinha
2.Mestre João Grande
3.Mestre João Pequeno

http://id.wikipedia.org/wiki/Capoeira

kempo

Kempo adalah nama generik untuk beberapa aliran Seni bela diri yang berasal dari Jepang dan banyak menggunakan permainan tangan. Jadi bukan nama satu aliran saja melainkan nama dari banyak aliran dan metode. Arti dari Kempo sendiri adalah beladiri dengan permainan tangan (didalam bahasa Mandarin disebut Quanfa).

Adapun beberapa aliran Kempo yang terkenal di Jepang dan negara-negara Barat adalah:

1. Tenshin Koryu Kempo, seni beladiri yang sudah berusia ratusan tahun sejak sebelum zaman Tokugawa (Era Meiji). Guru besar terakhir dari aliran ini adalah Ueno Takashi. Beladiri Tenshin Koryu Kempo ini berasal dari kombinasi antara Jujutsu aliran Shinto Tenshin-ryu, teknik persenjataan dan tangan kosong Asayama Ichiden-ryu dan Shinto Muso-ryu dengan jurus Daken Taijutsu aliran Hontai Kijin Chosui-ryu Kukishinden Daken Taijutsu. Salah satu pewaris dari aliran ini adalah grandmaster Shoto Tanemura dari Genbukan Dojo
2. Nihon Kempo, seni beladiri modern hasil ciptaan Master Masaru Sawayama. Beladiri yang unik dan merupakan kombinasi teknik pukul-tendang dari Karate dengan teknik bantingan dan pergumulan dari Judo dan Jujutsu. Sekarang sudah menjadi sebuah olahraga yang diminati di berbagai negara.
3. Kosho-ryu Kempo, seni beladiri turun temurun dari keluarga Mitose. Grandmaster terakhir dari aliran ini adalah Masayoshi Mitose yang kemudian menurunkan ilmunya kepada murid-muridnya yang berkebangsaan Amerika. Sehingga aliran Kempo ini dikenal dengan nama American Kenpo Karate.
4. Shorinji Kempo, seni beladiri berasal dari gabungan Indo Kempo (Ilmu Bela diri dari India) dan ilmu ketabiban Tiongkok kuno yang diciptakan oleh Bodhidharma/ Dharma Taishi/ Tatmo Cowsu seorang biksu Buddha untuk diberikan kepada calon bikhsu sebagai pendidikan keagamaan pada Zen Budhisme, pada tahun 550 M, disebarkan sesudah perang dunia ke 2 oleh So Doshin.

Senin, 11 Januari 2010

Silambam

Asal Usul
Silambam adalah sejenis seni bela diri yang ditumbuhkembangkan oleh orang Tamil di India. Kata Silambam dapat mempunyai beberapa arti, yaitu: (1) gerakan-gerakan bela diri tanpa menggunakan senjata maupun dengan senjata seperti: tongkat kayu, pedang, tombak dan lain sebagainya; (2) sebuah pertandingan; (3) tindakan untuk menakuti orang lain; dan (4) cara dalam memutarkan tongkat kayu. Lepas dari berbagai pengertian itu yang jelas Silambam adalah satu dari 64 jenis seni bela diri yang ditumbuhkembangkan oleh masyarakat Tamil, dengan tujuan agar orang-orang yang mempelajarinya menjadi manusia yang sempurna. Selain itu, Silambam juga dapat digunakan untuk mencegah dan menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti: sakit perut, susah buang air besar, dan masuk angin.

Konon, seni bela diri Silambam ini telah ada sejak zaman prasejarah atau sekitar 5.000 tahun yang lalu (sebelum bangsa Arya datang ke India). Di Cina dan Jepang baru dikenal pada awal abad ke-16. Pembawanya adalah penyebar agama Budha. Di kedua negara itu, malahan Silambam pernah menjadi suatu menu wajib ketentaraan. Dalam hal ini, sebelum tentara (prajurit) menggunkan pedang, terlebih dahulu harus menguasai seni bela diri ini. Di Malaysia sendiri baru dikenal sekitar abad ke-18, yaitu ketika penjajah (Inggris) mendatangkan pekerja-pekerja Tamil dari India. Orang-orang Tamil inilah yang kemudian memperkenalkannya kepada orang Melayu.

Pada masa Perang Dunia II seni bela diri ini sangat populer, terutama di daerah Kuala Selangor, Kapar, dan Kelang. Sebenarnya pemerintah jajahan (Inggris) melarangnya, namun seni bela diri itu tetap diajarkan dengan cara sembunyi-sembunyi (di hutan atau di tempat-tempat yang dianggapnya aman). Saat ini seni bela diri Silambam di Malaysia telah berkembang menjadi suatu olah raga yang dipertandingkan dengan aturan-atutan yang khusus.

Teknik-teknik Khas Silambam
Dalam seni bela diri ini seseorang baru dikatakan ahli apabila ia menguasai teknik dan taktik dalam menjatuhkan lawan dalam langkah 16, 32 dan 64, hanya dengan menggerakkan empat bagian tubuh (kepala, bahu, pinggang dan kaki). Teknik-teknik lain yang biasanya juga di lakukan dalam seni bela diri ini adalah gerakan-gerakan yang menyerupai: kera, ular, katak, elang, dan gajah. Seorang ahli, dalam sebuah pertarungan, biasanya hanya mengamati mata musuhnya karena gerakan lawan biasanya sesuai dengan gerak-gerik matanya. Ketika bertarung biasanya pesilat menggunakan sebatang tongkat khusus yang terbuat dari bambu atau rotan yang berkualitas baik (panjangnya setinggi pesilat dan berdiameter sekitar 3 cm). Tongkat tersebut sebelum dijadikan sebagai alat harus direndam selama beberapa hari. Setelah itu, tongkat akan dipukulkan berkali-kali, baik ke permukaan air yang mengalir maupun air yang tenang (tidak mengalir). Hal itu dimaksudkan untuk menambah kekuatan dan kelenturan tongkat.

Aturan-aturan dalam Silambam
Ada aturan-aturan yang mesti diindahkan dalam pertandingan Silambam, yaitu: (1) peserta harus selalu memutarkan senjatanya (tongkat kayu) ketika sedang bertanding untuk memperoleh nilai; (2) peserta dilarang memegang lawan dengan satu tangan; dan (3) peserta hanya boleh memukul sasaran yang telah ditentukan. Apabila peraturan-peraturan tersebut dilanggar, maka peserta akan diberi peringatan dan nilai yang diperolehnya akan dibatalkan atau dikurangi.

Selain peraturan tersebut, pertandingan juga di bagi menjadi kelas-kelas menurut umur dan berat badan. Kelas-kelas itu adalah: (1) sub junior (hanya diikuti oleh anak-anak berumur di bawah 10 tahun); (2) junior (hanya diikuti oleh peserta yang beratnya antara 30--40 kilogram); (3) senior (hanya diikuti oleh peserta yang beratnya 50—75 kilogram ke atas); dan (4) kelas veteran (hanya diikuti oleh peserta yang berumur 45 tahun ke atas).

Selain pertandingan secara individual, juga ada yang beregu. Jumlah regu yang diperkenankan maksimal 20 regu. Setiap regu yang anggotanya terdiri dari 10 orang, diharuskan untuk menunjukkan kemahirannya (memutarkan tongkat kayu dengan berbagai macam teknik). Jadi, pertandingan yang dilakukan secara beregu bukan adu-fisik, melainkan hanya adu kemampuan memutarkan tongkat. Ragu yang menjadi pemenang adalah yang mempunyai teknik memutarkan tongkat paling baik (menurut dewan juri).

Nilai Budaya
Silambam sebagai suatu seni bela diri yang tumbuh dan berkembang Malaysia, jika dicermati mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan acuan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu antara lain: kesehatan, kedisiplinan, kepercayaan diri, kesetiakawanan, dan Sportivitas.

Nilai kesehatan tercermin dari gerakan jurus-jurus dan teknik-teknik yang dilakukan oleh pesilatnya, baik ketika sedang berlatih maupun bertanding. Dengan mempraktekkan jurus-jurus dan atau teknik-teknik yang dipelajarinya, berarti pesilat Silambam harus menggerakkan kepala, bahu, pinggang, kaki, dan tangannya. Apalagi, ketika harus memutarkan tongkat dengan berbagai macam teknik. Gerakan-gerakan yang hampir meliputi seluruh anggota badan pada gilirannya akan membuat otot-otot mejadi kuat dan aliran darah pun menjadi lancar, sehingga badan menjadi sehat. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika kesehatan merupakan salah satu nilai yang terkandung dalam seni bela diri Silambam.

Nilai kerja keras tercermin dari usaha untuk menguasai jurus-jurus dan teknik-teknik yang ada dalam seni bela diri Silambam, terutama ketika harus mengalahkan lawan pada langkah 16, 32 dan 64 dengan hanya dengan menggerakkan empat bagian tubuh (kepala, bahu, pinggang dan kaki). Tanpa kerja keras mustahil dapat menguasai dengan sempurna jurus-jurus dan atau teknik-teknik yang ada dalam Silambam. Tanpa kerja keras juga tidak dapat mengalahkan lawan dalam langkah 16, 32, dan 64. Bertolak dari pemikiran itu, maka kerja keras merupakan salah satu nilai yang terkandung dalam seni bela diri Silambam.

Mempelajari seni bela diri Silambam, sebagaimana seni bela diri lainnya, berarti mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan, baik demi keselamatan dirinya maupun orang lain yang memerlukan pertolongannya. Dengan menguasai seni bela diri Silambam seseorang akan menjadi percaya diri dan karenanya tidak takut gangguan dan atau ancaman dari pihak lain. Bahkan, ia akan rela menolong orang yang tertindas. Bertolak dari pemikiran ini, maka kepercayaan diri merupakan salah satu nilai yang terkandung dalam seni bela diri Silambam.

Mempelajari seni bela diri Silambam, sebagaimana mempelajari seni bela diri lainnya, memerlukan kedisiplinan, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap aturan-aturan persilatan. Tanpa kedisiplinan diri dan taat serta patuh kepada aturan-aturan persilatan mustahil jurus-jurus dan teknik-teknik yang ditekuni dapat dikuasai dengan sempurna. Malahan, bukan hal yang mustahil dikeluarkan dari perguruan. Ini artinya, kedisiplinan merupakan salah satu nilai yang terkandung dalam seni bela diri Silambam.

Perguruan seni bela diri Silambam adalah suatu keluarga besar. Artinya, orang-orang yang belajar di perguruan tersebut, satu dengan lainnya, menganggap tidak hanya sebagai saudara seperguruan tetapi juga teman seperguruan. Sebagai seorang saudara dan seorang teman tentunya akan tidak saling menyakiti, tetapi justeru saling tolong-menolong. Bahkan, rela berkorban demi kebaikan dan atau keselamatan teman. Bertolak dari pemikiran itu, dan ini sering terjadi di kalangan mereka, maka kesetiakawanan merupakan salah satu nilai yang terkandung dalam seni bela diri Silambam.

Untuk “mengasah” ilmu silat setiap muridnya, pada umumnya di dalam sebuah perguruan silat diadakan latih-tanding dan pertandingan. Dalam latih-tanding atau pertandingan tersebut, tentu diperlukan adanya sikap dan perilaku yang sportif dari para pelakunya, sebab akan ada orang yang kalah dan menang. Nilai sportivitas tercermin dari pelaku Silambam yang kalah akan mengakui keunggulan lawan dan menerimanya dengan lapang dada. Oleh karena itu, sportivitas merupakan salah satu nilai yang terkandung dalam seni bela diri Silambam. (AG/bdy/48/7-07)

Sumber:
http://asrul-manjoi.blogspot.com.
http://www.geocities.com.
Silambam 1

Selasa, 05 Januari 2010

macam seni bela diri

1.NEST
2.Aikido
3.Capoeira
4.Gulat
5.Hapkido
6.Jiu Jitsu
7.Jogo do pau
8.Judo
9.Kalaripayat
10.Karate
11.Kempo
12.Kendo
13.Kung fu
14.Silambam
15.Silat
16.Taekwondo
17.Taido
18.Tinju
19.Tomoi
20.Wing Tsun
21.Wun-hup-kuen-do
22.Wushu
23.TANG-SO-DO

Seni Beladiri
* Choy Li Fut Kung Fu
* Dim Mak (Death Touch)
* Goju Kai Karate
* Goju Ryu Karate
* Hsing-I Chuan
* Iaido
* Jeet Kune Do
* Ju Jitsu (Jujutsu)
* Judo
* Kali (Escrima)
* Kickboxing
* Krav Maga
* Kung Fu
* Kyokushinkai
* Muay Thai
* Ninjutsu Iga Ryu
* Pa Kua
* Pentjak Silat
* Sambo
* Savate (French Boxing)
* Shito Ryu
* Shorin Ryu
* Shorinji Kempo
* Shotokan
* Shukokai
* Sumo
* Tai Chi Chuan
* Uechi Ryu * Wado Ryu
* Yoseikan
Pradal Serey

Senin, 04 Januari 2010

http://www.hardcorejkd.com/
Nage No Kata (Judo teaching video)
Jeet Kune Do Kung Fu Training
Explosive Jeet Kune Do
Jeet Kune Do, Trapping Hands for Combat
MMA - Capoeira vs. Kickboxer
Explosive Jeet Kune Do trapping (part 2)
Masters of Mixed Martial Arts
Deadly Martial Arts - Fight Science
http://infobeladiri.blogspot.com/2009/12/dim-mak-death-touch.html
http://belajarbeladiri.blogspot.com/2009/08/savate.html
Savate défense - Techniques de base
patada tornado
kali vs silat
Boxing Lessons for Beginners : Shadow boxing
Human Weapon - Krav Maga - Choke Defense
Chain Punching
Baliog Pomali
Pankration
Taekwondo - fly kick
How to Do a Butterfly Twist : Jumping Tips in Martial Arts Moves
Shaolin Kung Fu Stretches & Moves : Butterfly Kick in Shaolin Kung Fu
Butterfly Kick Tutorial
Penchak Silat Absolute Efficiency
PENCAK SILAT -The Fighters of Ciung Wanara

KAMAE, “Kuda-kuda”

KAMAE, “Kuda-kuda”

Dalam hal apapun, bentuk sikap menunjukkan kondisi mental seseorang. Maka dalam Aikido, diperlukan sebuah sikap (kuda-kuda) yang dilakukan sedemikian rupa sehingga memunculkan kondisi mental yang siaga namun tidak tegang.
Kuda-kuda dalam Aikido tidak dilakukan dengan kaku--yang hanya akan membuat setiap gerakan tegang dan tidak mengalir. Kuda-kuda harus dibuat sedemikian rupa sehingga akan menunjang setiap gerakan dalam Aikido. Walau demikian, sikap (kuda-kuda) harus tetap dalam keadaan dimana titik keseimbangan tubuh dalam posisi yang stabil sehingga tidak mudah digoyahkan. Sikap ini adalah ketika kita mampu menempatkan berat badan pada posisi terendah dan berkonsentrasi pada satu titik (hara: dua inci di bawah pusar).

MA AI, “Jarak yang sesuai”

Sebuah pertarungan, secara alamiah akan memerlukan suatu jarak yang sesuai, dimana si penyerang dapat melancarkan serangan dengan efektif, ataupun si pembela diri dapat melakukan pertahanan dengan tepat.
Dengan memahami konsep ruang gerak/pertarungan yang ada di sekelilingnya (depan, samping, belakang) secara baik, seorang Aikidoka harus mampu mengukur jarak yang tepat bagi dirinya dengan lawan dalam mengaplikasikan setiap waza atau menetralisir setiap serangan yang mungkin ada.

KUZUSHI, “Menggoyahkan keseimbangan lawan”

Suatu serangan tentu akan baik bila si penyerang mampu menjaga keseimbangan tubuhnya dengan baik pula. Sehingga bila posisi tubuh lawan stabil, maka tentunya teknik Aikido apapun sangat sulit untuk dapat diterapkan. Hal ini mengingat bahwa lawan tidak akan mungkin “memberikan” dirinya begitu saja untuk dijatuhkan dan dia akan mencari cara untuk “melepaskan diri” dari teknik apapun apabila ia memang masih mampu untuk melakukan itu. Taknik Aikido hanya akan berhasil diaplikasikan ketika kondisi lawan tidak bisa menghindar lagi, dengan kata lain ia sudah “tidak punya pilihan lain” selain menerima teknik yang diterapkan padanya. Situasi seperti ini hanya akan terjadi ketika lawan sudah tidak memiliki kontrol atas tubuhnya sendiri. Untuk itulah pentingnya menghilangkan keseimbangannya terlebih dahulu.

ATEMI, “Menghilangkan konsentrasi lawan”

Secara harfiah, atemi berarti teknik pukulan/serangan. Dalam Aikido, atemi punya peranan yang penting sebagai penghilang konsentrasi lawan. Aikido tidak menggunakan atemi sebagai alat untuk menghancurkan lawan, karena teknik Aikido tidak diutamakan untuk merusak melainkan hanya sekedar melumpuhkan lawan.
Seperti halnya keseimbangan, seorang lawan akan sulit dilumpuhkan saat ia memiliki konsentrasi serangan yang sempurnna. Maka dengan atemi, seorang pembeladiri akan mencuri kesempatan dibalik kelengahan si penyerang yang mungkin hanya sepersekian detik namun sudah cukup memberinya waktu untuk mengaplikasikan waza Aikido.
Atemi tidak mutlak harus berbentuk serangan dimana sesuai dengan maksud dan tujuannya dalam Aikido, maka Atemi dapat berupa teknik apapun yang mampu menggoyahkan kemampuan fisik dan mental lawan.

SHIKAKU, “Sudut Mati”

Gelombang serangan yang datang bertubi-tubi tentunya akan sangat sulit untuk diantisipasi bila hanya terfokus pada serangan tersebut. Dengan memasuki ‘sudut mati’ (blind spot) lawan, maka serangan apapun akan terhenti karena sesaat kita seperti “hilang” dari jangkauan lawan.
Dalam prinsip ini, seorang Aikidoka harus mampu menempatkan posisi tubuhnya sedemikian rupa sehingga ia berada dalam posisi yang mampu menjangkau lawan, sebaliknya lawan tidak mampu menjangkaunya. Dengan kata lain, “dekat bagi kita namun jauh bagi lawan”.

SUKI, “Celah kelemahan lawan”

Suki disini mencakup semua hal yang sudah dijelaskan sebelumnya. Kelemahan lawan bisa muncul kapan dan dimana saja, tergantung kejelian si pembela diri untuk menemukan untuk kemudian memanfaatkannya dengan baik.
Suki dapat berupa bagian tubuh lawan yang terbuka tanpa perlindungan; dapat juga kesempatan yang muncul ketika lawan goyah keseimbangannya atau hilang konsentrasinya. Bila mampu memanfaatkan suki dengan baik, maka waza Aikido akan mampu diterapkan tanpa perlu mengeluarkan banyak tenaga.

RIAI, “Berkarakter pedang”

Harus dipahami bahwa semua serangan yang datang itu laksana pedang; jangan membloknya. Justru seorang pembela diri harus keluar dari garis serang dan mengalirkan serangan yang datang, sehingga ia tidak akan mengalami benturan dengan lawan.
Dan harus disadari pula bahwa teknik Aikido dikembangkan dari teknik pedang sehingga dalam mengaplikasikan setiap teknik harus selalu menyadari bahwa kita sedang “memainkan pedang” yang direpresentasikan dalam setiap teknik Aikido.

CHUSIN, "Garis tengah/Center Line"

Segala sesuatu selalu memiliki garis tengah / garis pusat sebagai titik pusat tumpuan atau poros keseimbangan. Pada tubuh manusia garis pusat keseimbangan dimulai dari titik seika tanden yang berada kira-kira 3 jari dibawah pusar. Kemudian ditarik garis lurus keatas melalui bagian tengah tubuh hingga berakhir pada ubun-ubun kepala dan dari tanden ditarik garis lurus kearah bawah, sehingga jatuh tepat diantara dua kaki pada posisi Shizen Tai. Pada saat anda berkonsentrasi di garis tengah tersebut, anda akan merasa lebih seimbang, stabil dan terfokus. Posisi selanjutnya untuk melatih Chusin adalah pada posisi Kamae. Pada posisi ini anda dapat melihat dan merasakan keberadaan Chusin sebagai garis imajiner dalam latihan. Bagi para pemula, wajib untuk mengkonsentrasikan setiap gerakan dan tehnik yang mereka lakukan pada Chusin. Fokuskan tubuh, tangan, pinggang dan kaki dalam satu garis lurus. Bergeraklah secara simultan.

Chusin juga berfungsi sebagai garis penghubung antara anda dan lawan, bagaikan jembatan yang menghubungkan 2 daratan yang terpisah. Chusin dapat menghubungkan “KI” anda dan “KI” lawan anda dalam sebuah garis lurus. Apabila Ki anda telah menjadi sebuah garis lurus dengan lawan anda, maka secara otomatis lawan akan kehilangan garis keseimbangannya dan akan terikat dengan garis keseimbangan anda. Maka dengan demikian, anda dapat mengendalikan lawan anda dengan ringan dan mudah, tanpa mengalami konflik.

Bersamaan dengan lamanya waktu anda berlatih, maka Chusin akan bertransformasi menjadi sebuah garis energi yang lambat laun akan melebur dengan gerakan anda secara alami/natural. Pada saat itu, kemanapun anda mengarahkan pikiran anda dan kemanapun tubuh anda bergerak, maka disanalah Chusin berada. Anda tidak lagi bergerak mengikuti garis tengah, tetapi garis tengahlah yang mengikuti gerakan anda. Setelah anda mencapai level ini, maka anda tidak lagi terikat dengan gerakan baku. Bergeraklah secara bebas dan natural, karena lawan telah menjadi satu bagian dengan anda.

ENSHIN, "Poros Lingkaran"

Hakikat dari tehnik-tehnik Aiki adalah sebuah lingkaran yang sempurna, tidak terputus ataupun terpatahkan. Bagaikan air yang mengalir tanpa gangguan atau seperti ritme nafas kehidupan yang terus berhembus hingga akhir waktu.

Gambaran esensi tehnik Aiki adalah seperti sebuah pusaran yang berbentuk spiral, dimulai dari sebuah lingkaran yang sangat besar dan kemudian mengecil, mengecil, mengecil, sehingga menjadi sebuah titik. Pusaran tersebut tidak berhenti sampai disitu saja, melainkan terus berputar sehingga titik tersebut lenyap dan tidak terlihat oleh mata. Sebagian orang akan menyangka dengan hilangnya titik tersebut, maka hilanglah pula pusaran tersebut. Tetapi pada hakikatnya pusaran itu terus berputar, walaupun mata kita tidak mampu lagi melihatnya.

Demikianlah tehnik-tehnik Aiki bekerja. Pada level awal, selalu diawali dengan lingkaran-lingkaran yang besar sehingga dengan kasat mata orang dapat melihat dan mengikutinya dengan jelas dengan demikian seseorang dapat mempelajari bentuk-bentuk teknik dengan mudah. Sejalan dengan bertambahnya pengetahuan dan pengalaman anda dalam memahami kebijaksanaan Aiki, maka secara alamiah lingkaran-lingkaran tersebut akan mengecil dan terus mengecil sehingga tidak dapat tertangkap oleh mata orang yang tidak terlatih. Pada tingkatan tersebut, tehnik akan sulit sekali dipahami bagi mereka yang tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang Aiki. Maka pada tingkatan ini seseorang praktisi akan lebih memfokuskan latihannya dalam bentuk pengalaman tubuh secara langsung dengan merasakan keadaan yang disebut dengan “kondisi aiki”. Latihan seperti ini disebut “taitoku” (learn through experience). Akhirnya pada tingkatan yang lebih lanjut, seseorang dapat saja tidak lagi perlu melakukan kontak secara fisik dengan lawannya untuk melakukan sebuah teknik. Hal ini disebabkan karena energi gerak fisikal yang bersandar pada sifat kedirian seseorang telah berubah menjadi energi universal yang menyatu secara keseluruhan dengan apapun yang ada disekelilingnya dan mengikatnya sejak awal. Nilai yang disebut lingkaran kecil tanpa garis dalam dan lingkaran besar tanpa garis luar.

Dalam sebuah hukum tentang Aiki, dijelaskan pula bahwa pada saat pusaran energi materiil membesar, maka besaran energi imateriil akan mengecil. Begitupun sebaliknya, jika energi imateriil membesar, maka energi materiil mengecil. Bila mana anda telah memahami ini, maka anda telah memahami prinsip Enshin dalam Aiki.

SU CHU, “Fokus pikiran”

Setiap melakukan teknik apapun, fokus pikiran sangatlah penting. Dalam penerapan teknik, fokuskan terlebih dahulu pikiran anda. Berpikirlah lurus sebelum melakukan gerakan lurus. Berpikirlah tentang putaran sebelum bergerak memutar. Jadikan pikiran sebagai pemimpin dan penyatu kekuatan kita, untuk mengkoordinasikan tubuh dan pikiran hingga sampai pada apa yang disebut, ‘Ken Zen Ichi Nio’* atau Moving Zen.

KOKYU, “Kekuatan Napas”

Menggunakan Kokyu (pernapasan) sangatlah penting untuk menentukan momentum yang tepat untuk mengaplikasikan teknik. Dalam Aikido, Kokyu dihubungkan dengan In-Yo (Yin-Yang, Cina). Didasari oleh dua macam kontraksi pernapasan, yaitu menghirup (inhale) disimbolkan dengan In (Yin) dan menghembuskan (exhale) Yo (Yang). Ketika seseorang bersiap melakukan suatu gerakan, biasanya ia akan mengawalinya dengan menarik napas (In) untuk mengumpulkan tenaga dan bila melakukan diiringi dengan hembusan napas (Yo). Berdasarkan prinsip ini, momentum terbaik untuk mengaplikasikan teknik adalah ketika lawan masih dalam posisi In. Bila diterapkan teknik pada keadaan ini, maka napas lawan akan tersentak balik dan napasnya terpotong. Dalam situasi ini teknik akan mudah diaplikasikan pada lawan.

AWASE, “Mengalir” dan MUSUBI, ”Berpadu”

Awase dan Musubi merujuk pada sebuah hal yang sama, yakni upaya untuk melakukan harmonisasi/penyelarasan.
Setiap teknik harus dilakukan secara mengalir dan rileks. Penerapan secara terpatah-patah akan memunculkan banyak kesempatan untuk meloloskan diri dari setiap teknik dan menjadikan teknik tidak akan efektif karena aliran tenaga yang terhambat. Bila teknik dilakukan secara mengalir, akan mampu membuat lawan “tersedot” ke dalam “pusaran” yang dibuat oleh si pembela diri, bagaikan sebuah angin tornado yang mampu melarutkan dan menyatukan benda apapun (berpadu) yang ada didalamnya.
Dalam Aikido, kemampuan si pembela diri untuk berpadu dengan lawan dikarenakan kemampuannya untuk merasakan kondisi lawan; energi, emosi, keinginan dsb. Bagaikan dua utas tali yang disatukan (Musubi: simpul tali), maka ketika ujung satu ditarik maka ujung lain akan mengikuti. Demikian pula pada setiap penerapan waza Aikido, saat lawan ingin bergerak ke suatu arah, maka si pembela diri akan menyesuaikan dengan situasi itu. Saat si penyerang ingin melakukan suatu gerakan, kembali si pembela diri mengadaptasikan diri dengan respon/teknik yang sesuai. Dalam hal ini, si pembela diri tidak boleh menentang “arus” yang dibuat oleh si penyerang, karena itu akan menguras tenaga lebih banyak tenaga.

ZANSHIN, “Follow Through/Kewaspadaan”

Satu hal yang tampak sepele namun sering terlupakan adalah kewaspadaan yang harus dilakukan setiap saat, baik saat menghadapi serangan lawan ataupun ketika serangan itu sudah dapat dilumpuhkan. Yang sangat harus diperhatikan, bahwa ketika serangan lawan berhasil dilumpuhkan, bukan berarti bahaya sudah lewat. Justru kewaspadaan harus lebih ditingkatkan, karena kelengahan dapat menyebabkan lawan yang tampaknya sudah tidak berdaya memiliki kesempatan kedua untuk menyerang kembali.
Dalam keadaan dimana terjadi penyerangan dilakukan lebih dari seorang, Zanshin dilakukan dengan cara berkonsentrasi pada penyerang laionnya khususnya yang berada di area yang tak terlihat mata dengan tidak mengurangi fokus pada lawan yang telah dijatuhkan/dikuasai.

prinsip dan teknik dasar aikido

AIKIDO, “Jalan menuju keharmonisan energi dan jiwa”, diciptakan oleh O' Sensei Morihei Ueshiba pada sekitar tahun 1920an. Dasar dari Aikido itu sendiri adalah pemahaman dan kesadaran akan “hara” (center, pusat) diri sendiri, pemahaman dan kesadaran akan “Ki” (energi) yang mengalir didalam diri sendiri dan di luar diri (universe, alam semesta) dan pernafasan perut “Kokyu”. Didalam bahasa lain “Hara” juga dikenal dengan sebutan “Cakra”.


Pusat energi pada diri sendiri ini yang lazim juga disebut pusat tenaga dalam (Inner Energy) yang dimiliki oleh setiap manusia. Umumnya terpusat di sekitar 5 cm dibawah pusar manusia, disitulah letak “Hara” (center/pusat) yang merupakan tempat “Ki” (energi murni) mengalir melalui “Kokyu”. Sedangkan “Ki” yang ada dari luar diri lebih bersifat universal yang berasal dari alam semesta yang sifatnya selalu berusaha mencapai keseimbangan yang harmonis/stabil.


Dengan pemahaman dan kesadaran yang konstant atas keberadaan “Hara” dan aliran “Ki” yang mengalir didalam diri dan lingkungan kita didalam kehidupan sehari-hari dengan melakukan pernafasan secara “Kokyu”, dipercaya dapat meningkatkan kewaspadaan diri dan pikiran (Body & Mind Awareness) terhadap diri maupun lingkungan kita. Sehingga pada akhirnya kita dapat merasakan akan adanya gangguan/ “Ki” yang buruk yang akan muncul, juga dipercaya dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit.


Kesadaran dan pemahaman konstant atas “Hara”, “Ki”, dan “Kokyu” sebagaimana dimaksud pada paragraf diatas didalam penerapannya pada tekhnik-tekhnik Aikido (Waza) adalah absolut/keharusan. Tanpa adanya pemahaman dan kesadaran tersebut tekhnik aikido (Waza) tidak akan berjalan dengan baik dan benar.


Didalam penerapan tekhnik Aikido dikenal adanya “Irimi”, “Tengkang” dan “Kaiten”, yang merupakan dasar gerakan untuk setiap tekhnik Aikido.


“Irimi” secara sederhana dapat diartikan dengan masuk/memasuki (entering). Maksud dari gerakan ini adalah masuk ke titik keseimbangan (center/Hara) lawan (Uke), sehingga centernya menjadi center kita dan lawan menjadi tidak stabil (unbalance).

“Tengkang” secara sederhana dapat diartikan dengan berputar/memutar badan dengan berporos pada salah satu kaki (Pivoting).

“Kaiten” secara sederhana dapat diartikan dengan memutar badan pada porosnya atau berbalik arah.


Didalam melakukan tekhnik Aikido, “Irimi”, “Tengkang” dan “Kaiten” tidak berdiri sendiri-sendiri namun dilakukan bersama-sama, apakah itu “Irimi” dengan “Tengkang” atau dengan “Kaiten”, atau “Tengkang” dengan “Kaiten”, atau malah ketiga-tiganya didalam satu “Waza”. Gabungan antara “Irimi”, “Tengkang”, dan “Kaiten” itu lah yang menciptakan gerakan berputar spiral (spiral movement) yang menjadi ciri khas tekhnik Aikido.


Diluar dari hal-hal tersebut diatas masih ada faktor-faktor pendukung lainnya didalam tekhnik Aikido seperti ; “Kamae” atau posisi awal (basic stance), “Tai Sabaki” pergerakan badan (body movement), “Musubi” atau interaksi secara harmonis (harmonious interaction), “Ma-ai” jarak awal yang aman (basic distance), juga tidak kalah pentingnya faktor “Ukemi” atau cara penyelamatan diri/cara jatuh karena sebab ketidak seimbangan diri (unbalance).


Dari seluruh factor-faktor diatas dapat diambil suatu pengertian dasar, bahwa seseorang didalam menerapkan “Waza” Akido adalah;
Dengan memiliki pemahaman dan kesadaran yang konstant akan “hara” tempat asal “ki” dirinya akan mengalir melalui “kokyu” lalu mempersiapkan diri dalam posisi “Kamae” yang tepat dengan situasi yang dihadapinya dan menjaga “Ma-ai” yang tepat dengan kemungkinan jenis ancaman yang akan muncul, lalu jika ancaman itu datang melakukan “Tai Sabaki” anggota badan secara “Musubi” melalui “Irimi”, “Tengkan” dan “Kaiten”, sehingga terciptalah pengendalian (controlling) dan penetralan (neutralization) yang efektif dan efisien atas ancaman tersebut. Dan jika mengalami posisi tidak seimbang (unbalance) dapat melakukan “Ukemi” dengan sempurna.

mengatasi rasa bosan dlm aikido

Rasa bosan atau jenuh adalah salah satu kendala yang ditemui oleh hampir semua orang yang berlatih aikido. Rasa bosan dalam berlatih aikido banyak faktor penyebabnya antara lain, bentuk latihan dasar yang monoton, teknik dasar aikido yang terkesan tidak aplikatif, tidak adanya pertandingan ataupun wahana “uji kemampuan” untuk melihat apakah latihan kita sudah benar atau belum, dan lagi ditambah pemahaman terhadap filosofi terasa sangat sulit dicapai melalui latihan yang kita lakukan.

Rasa bosan yang muncul dari rutinitas dan keadaan seperti diatas dapat meng-hinggapi siapa saja dan pada tingkatan sabuk mana-pun. Pada awal belajar aikido dimana masih banyak perbendaharaan teknik yang dapat dipelajari dan keinginan memiliki sabuk berwarna dan mengenakan hakama masih tinggi, biasanya semangat berlatih masih berkobar-kobar (walaupun ada juga yang cepat bosan dan kemudian quit), rasa bosan biasanya mulai muncul ketika telah mendapatkan sabuk coklat dan mencapai puncaknya pada saat memiliki sabuk hitam. Tidak sedikit praktisi aikido pada saat telah berstatus yudansha, dimana semua teknik sudah tahu (definisi: tahu ≠ menguasai apalagi memahami) kemudian mulai kehilangan tujuan latihan dan akhirnya bosan, ada yang kemudian mulai non-aktif, ada juga yang tetap latihan bahkan mengajar namun dengan “menambahkan” teknik-teknik aplikasi, ground fighting dan sebagainya dengan alasan kalau basic (teknik dasar) saja tidak akan cukup, saya tidak akan berdebat soal apakah yang seperti ini benar atau salah, tapi saya berasumsi hal seperti ini terjadi lebih di karenakan rasa bosan berlatih basic.

Dari pembahasan saya dengan Hakim Sensei tentang hal ini beberapa waktu yang lalu, saya menyimpulkan bahwa kebanyakan dari kita setelah sekian lama berlatih , terjebak pada apa yang disebut pengulangan teknik. Yang dimaksud disini adalah setelah tahu bagaimana bentuk gerakan sebuah teknik, kita tidak tahu lagi apa yang harus kita pelajari dan akhirnya latihan menjadi sebuah rutinitas melakukan teknik yang itu-itu lagi selama bertahun-tahun hanya mengulang dan mengulang bentuk gerakan dari teknik tersebut. O’Sensei pernah berpesan bahwa “rahasia aikido tidak terletak pada teknik yang kita lakukan melainkan pada bagaimana kita menempatkan pikiran dan hati kita”. Wejangan beliau ini secara eksplisit mengingatkan kita agar tidak terpesona dan berkutat hanya pada taraf teknik fisik, melainkan menggali lebih luas dan dalam ke arah apa yang terkandung didalam dan kemudian tercermin lewat gerakan fisik tersebut.

Pendek kata, tanpa disertai dengan pengkajian esensi dan pemahaman terhadap hubungan gerakan teknis dengan filosofi yang seharusnya terkandung didalamnya, bentuk teknik yang di lakukan berkali-kali tidak akan meningkatkan efektivitas.

Hakim Sensei kala berdiskusi dengan saya mengingatkan dalam berlatih jangan mengulang kesalahan, tapi di aikido, itu saja tidak cukup, jika kita berhasil melakukan suatu teknik dengan benar-pun, jangan diulang!. Karena gerakan yang benar pada saat itu belum tentu benar (efektif) untuk serangan berikutnya. Karena meskipun bentuk serangannya sama, sifat tiap serangan adalah unik, dari mulai intensitas menyerang, arah, posisi awalan, dan masih banyak lagi faktor yang membedakan serangan sebelumnya dengan kali berikutnya. Dan karena aikido bertujuan mengharmoniskan diri kita dengan keadaan, maka tidak masuk akal jika kita melakukan cara yang sama untuk mengharmoniskan diri kita dengan dua hal yang berbeda.

Jadi, yang semustinya menjadi tujuan kita pada saat berlatih adalah mendapatkan pemahaman tentang keharmonisan dari filosofi aikido dan berlatih untuk menghidupkannya lewat teknik aikido. Jika kita mensikapi latihan kita seperti ini niscaya kita tidak akan pernah “mengulang” satu teknik-pun meski harus melakukan gerakan teknik dasar yang sama ratusan bahkan ribuan kali. Mudah-mudahan dengan memahami esensi latihan seperti ini kita dapat terus merasa bersemangat dalam berlatih dan mencegah rasa bosan untuk hinggap di dalam hati kita.

Morihei Ueshiba

Pendiri aikido

(1883 - 1969)

Aikido, the way of harmony, adalah sejenis beladiri yang didirikan oleh Morihei Ueshiba (1883 - 1969). Sebagai seorang yang haus ilmu, Ueshiba berlatih berbagai aliran seni bela diri dari berbagai sumber. Selain belajar kemiliteran di angkatan perang Jepang, Ueshiba mempelajari, yagyu ryu, hozoin sojutsu, yudo, daito ryu aikijutsu dan lain-lain. Namun, pengaruh terbesar dalam ilmu bela dirinya dianggap berasal dari daito ryu aikijutsu. Dari Sokaku Takeda bertahun-tahun ia mendapatkan pelatihan daito ryu aiki jutsu, yang memiliki akar sebagai teknik pertempuran kelas samurai saat itu.

Sekitar tahun 1927, Ueshiba meninggalkan Hokkaido pindah ke Tokyo. Ueshiba kemudian mengembangkan jalan sendiri dan membentuk seni bela diri baru yang dikenal dengan nama aiki budo sebagai ilmu beladiri yang terpisah dari daito ryu aikijutsu. Baru pada tahun 1942, ditandai dengan pembukaan dojo di Iwama, nama beladiri yang dikembangkannya diberi nama akhir aikido. Aikido telah terdaftar dalam Dai Nihon Butokukai, juga Departemen Pendidikan Jepan

Teknik aikido memiliki ciri yang unik. Gerakannya dinamik dan memiliki aliran yang tidak terputus. Gerakannya banyak memiliki teknik yang melingkar atau masuk ke daerah lemah lawan.

Aikido merupakan kesatuan beragam teknik yang menggunakan prinsip energi dan gerak untuk mengarahkan kembali, menetralisir dan mengontrol penyerang. Dengan bentuk tekniknya yang dinamik, aikido memungkinkan praktisinya selalu bergerak ketika melakukan eksekusi. Dengan demikian, meskipun masih dalam perdebatan, beberapa orang menyatakan bahwa aikido sesuai dalam menghadapi situasi dengan banyak penyerang. Pada tingkat terbaik, aikido diyakini dapat melindungi seseorang tanpa menyebabkan cedera serius, baik bagi penyerang maupun yang diserang. Jika dilakukan secara tepat, ukuran dan kekuatan tidak mempengaruhi efisiensi teknik.

Aikido merupakan salah satu beladiri Jepang yang paling sulit untuk dikuasai dengan benar. Teknik pertahanan seringkali dianggap sebagai aikido yang sebenarnya, sementara teknik penyerangan bukan. Dari perjalanan sejarah, hal ini dapat dipertanyakan, namun banyak aikidoka lebih menfokuskan pelatihannya pada teknik pertahanan.

Teknik aikido banyak yang didasarkan dengan membuat penyerang kehilangan keseimbangan dan teknik kuncian pada persendian. Mempengaruhi keseimbangan lawan dengan cara masuk sering dikenal dengan istilah mengambil pusat lawan (hara). Teknik pertahanan aikido kebanyakan dilaksanakan dengan melakukan teknik lemparan (nage-waza) atau teknik kontrol (katame-waza), tergantung situasi. Teknik masuk (irimi) dan berputar (tenkan) merupakan konsep yang secara luas digunakan dalam aikido, seperti juga serangan (atemi) yang lebih banyak dilakukan sebagai pengacau konsentrasi daripada untuk menyakiti lawan.

Walaupun serangan tidak terlalu dipelajari secara luas dalam aikido, teknik serangan yang tepat dan efektif tetap penting dipelajari. Serangan dalam latihan aikido meliputi berbagai teknik pukulan dan genggaman, seperti shomenuchi (pukulan vertikal ke kepala), yokomenuchi (pukulan memutar ke sisi kepala atau leher), munetsuki (pukulan lurus), ryotedori (genggaman dua tangan) atau katadori (genggaman pada bahu), dan lain-lain. Banya dari serangan (uchi) merupakan pukulan yang diturunkan dari ilmu pedang atau alat lainnya. Tendangan juga terkadang dilakukan.

Alat yang dipergunakan dalam latihan aikido biasanya terdiri dari tongkat (jo), pedang kayu (bokken) dan pisau kayu (tanto). Teknik mengambil dan mempertahankan senjata juga diajarkan, agar dapat pemahaman aspek aikido yang menyeluruh dengan atau tanpa senjata. Contohnya, teknik yang dilakukan dengan pukulan tangan merupakan ilustrasi dari serangan dengan tanto atau jo, sedangkan teknik genggaman merupakan gambaran dari cara mencabut atau melakukan serangan dengan senjata yang digenggam.

Banyak pusat pelatihan yang mengajarkan teknik bersenjata yang diturunkan oleh Morihiro Saito, yaitu aiki-jo dan aiki-ken. Juga ada kata tunggal dengan jo, dan latihan berpasangan dengan jo dan bokken. Pada aliran aikido tertentu, latihan berpasangan dengan bokken dalam kata yang diturunkan dari aliran tua merupakan hal umum. Beberapa ahli aliran ini mengembangkan sendiri sistem beladiri senjata, seperti aikido dua pedang dari Mitsugi Saotome.

Metode pelatihan antara tiap organisasi atau pusat pelatihan berbeda-beda satu sama lainnya, namun biasanya guru mempraktekkan teknik dan murid menirunya. Latihan dilakukan dengan teknik berpasangan namun bukan bertanding. Uke, penerima teknik, biasanya memulai dengan serangan melawan nage, yang menetralisir serangan dengan teknik aikido. Uke dan nage memiliki peran yang penting. Murid harus belajar dalam kedua posisi ini untuk mempelajari bagaimana bertahan dan menyerang dengan aman. Pergerakan, kewaspadaan, presisi dan ketepatan waktu merupakan hal yang penting dalam melakukan eksekusi teknik yang akan berkembang dari bentuk yang kasar menjadi lebih mengalir dan lebih adaptif dalam penerapannya. Terkadang, murid akan belajar jiyu-waza atau randori yang serangannya lebih tidak dapat diprediksikan. Beberapa aliran, mempelajari teknik balasan (kaeshi-waza).

Ueshiba tidak memperkenankan pertandingan dalam aikido, karena beberapa teknik dianggap terlalu berbahaya dan karena ia percaya bahwa kompetisi tidak akan mengembangkan karakter yang baik bagi murid-muridnya. Kebanyakan aliran aikido meneruskan tradisi ini.