Senin, 11 Januari 2010

Silambam

Asal Usul
Silambam adalah sejenis seni bela diri yang ditumbuhkembangkan oleh orang Tamil di India. Kata Silambam dapat mempunyai beberapa arti, yaitu: (1) gerakan-gerakan bela diri tanpa menggunakan senjata maupun dengan senjata seperti: tongkat kayu, pedang, tombak dan lain sebagainya; (2) sebuah pertandingan; (3) tindakan untuk menakuti orang lain; dan (4) cara dalam memutarkan tongkat kayu. Lepas dari berbagai pengertian itu yang jelas Silambam adalah satu dari 64 jenis seni bela diri yang ditumbuhkembangkan oleh masyarakat Tamil, dengan tujuan agar orang-orang yang mempelajarinya menjadi manusia yang sempurna. Selain itu, Silambam juga dapat digunakan untuk mencegah dan menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti: sakit perut, susah buang air besar, dan masuk angin.

Konon, seni bela diri Silambam ini telah ada sejak zaman prasejarah atau sekitar 5.000 tahun yang lalu (sebelum bangsa Arya datang ke India). Di Cina dan Jepang baru dikenal pada awal abad ke-16. Pembawanya adalah penyebar agama Budha. Di kedua negara itu, malahan Silambam pernah menjadi suatu menu wajib ketentaraan. Dalam hal ini, sebelum tentara (prajurit) menggunkan pedang, terlebih dahulu harus menguasai seni bela diri ini. Di Malaysia sendiri baru dikenal sekitar abad ke-18, yaitu ketika penjajah (Inggris) mendatangkan pekerja-pekerja Tamil dari India. Orang-orang Tamil inilah yang kemudian memperkenalkannya kepada orang Melayu.

Pada masa Perang Dunia II seni bela diri ini sangat populer, terutama di daerah Kuala Selangor, Kapar, dan Kelang. Sebenarnya pemerintah jajahan (Inggris) melarangnya, namun seni bela diri itu tetap diajarkan dengan cara sembunyi-sembunyi (di hutan atau di tempat-tempat yang dianggapnya aman). Saat ini seni bela diri Silambam di Malaysia telah berkembang menjadi suatu olah raga yang dipertandingkan dengan aturan-atutan yang khusus.

Teknik-teknik Khas Silambam
Dalam seni bela diri ini seseorang baru dikatakan ahli apabila ia menguasai teknik dan taktik dalam menjatuhkan lawan dalam langkah 16, 32 dan 64, hanya dengan menggerakkan empat bagian tubuh (kepala, bahu, pinggang dan kaki). Teknik-teknik lain yang biasanya juga di lakukan dalam seni bela diri ini adalah gerakan-gerakan yang menyerupai: kera, ular, katak, elang, dan gajah. Seorang ahli, dalam sebuah pertarungan, biasanya hanya mengamati mata musuhnya karena gerakan lawan biasanya sesuai dengan gerak-gerik matanya. Ketika bertarung biasanya pesilat menggunakan sebatang tongkat khusus yang terbuat dari bambu atau rotan yang berkualitas baik (panjangnya setinggi pesilat dan berdiameter sekitar 3 cm). Tongkat tersebut sebelum dijadikan sebagai alat harus direndam selama beberapa hari. Setelah itu, tongkat akan dipukulkan berkali-kali, baik ke permukaan air yang mengalir maupun air yang tenang (tidak mengalir). Hal itu dimaksudkan untuk menambah kekuatan dan kelenturan tongkat.

Aturan-aturan dalam Silambam
Ada aturan-aturan yang mesti diindahkan dalam pertandingan Silambam, yaitu: (1) peserta harus selalu memutarkan senjatanya (tongkat kayu) ketika sedang bertanding untuk memperoleh nilai; (2) peserta dilarang memegang lawan dengan satu tangan; dan (3) peserta hanya boleh memukul sasaran yang telah ditentukan. Apabila peraturan-peraturan tersebut dilanggar, maka peserta akan diberi peringatan dan nilai yang diperolehnya akan dibatalkan atau dikurangi.

Selain peraturan tersebut, pertandingan juga di bagi menjadi kelas-kelas menurut umur dan berat badan. Kelas-kelas itu adalah: (1) sub junior (hanya diikuti oleh anak-anak berumur di bawah 10 tahun); (2) junior (hanya diikuti oleh peserta yang beratnya antara 30--40 kilogram); (3) senior (hanya diikuti oleh peserta yang beratnya 50—75 kilogram ke atas); dan (4) kelas veteran (hanya diikuti oleh peserta yang berumur 45 tahun ke atas).

Selain pertandingan secara individual, juga ada yang beregu. Jumlah regu yang diperkenankan maksimal 20 regu. Setiap regu yang anggotanya terdiri dari 10 orang, diharuskan untuk menunjukkan kemahirannya (memutarkan tongkat kayu dengan berbagai macam teknik). Jadi, pertandingan yang dilakukan secara beregu bukan adu-fisik, melainkan hanya adu kemampuan memutarkan tongkat. Ragu yang menjadi pemenang adalah yang mempunyai teknik memutarkan tongkat paling baik (menurut dewan juri).

Nilai Budaya
Silambam sebagai suatu seni bela diri yang tumbuh dan berkembang Malaysia, jika dicermati mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan acuan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu antara lain: kesehatan, kedisiplinan, kepercayaan diri, kesetiakawanan, dan Sportivitas.

Nilai kesehatan tercermin dari gerakan jurus-jurus dan teknik-teknik yang dilakukan oleh pesilatnya, baik ketika sedang berlatih maupun bertanding. Dengan mempraktekkan jurus-jurus dan atau teknik-teknik yang dipelajarinya, berarti pesilat Silambam harus menggerakkan kepala, bahu, pinggang, kaki, dan tangannya. Apalagi, ketika harus memutarkan tongkat dengan berbagai macam teknik. Gerakan-gerakan yang hampir meliputi seluruh anggota badan pada gilirannya akan membuat otot-otot mejadi kuat dan aliran darah pun menjadi lancar, sehingga badan menjadi sehat. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika kesehatan merupakan salah satu nilai yang terkandung dalam seni bela diri Silambam.

Nilai kerja keras tercermin dari usaha untuk menguasai jurus-jurus dan teknik-teknik yang ada dalam seni bela diri Silambam, terutama ketika harus mengalahkan lawan pada langkah 16, 32 dan 64 dengan hanya dengan menggerakkan empat bagian tubuh (kepala, bahu, pinggang dan kaki). Tanpa kerja keras mustahil dapat menguasai dengan sempurna jurus-jurus dan atau teknik-teknik yang ada dalam Silambam. Tanpa kerja keras juga tidak dapat mengalahkan lawan dalam langkah 16, 32, dan 64. Bertolak dari pemikiran itu, maka kerja keras merupakan salah satu nilai yang terkandung dalam seni bela diri Silambam.

Mempelajari seni bela diri Silambam, sebagaimana seni bela diri lainnya, berarti mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan, baik demi keselamatan dirinya maupun orang lain yang memerlukan pertolongannya. Dengan menguasai seni bela diri Silambam seseorang akan menjadi percaya diri dan karenanya tidak takut gangguan dan atau ancaman dari pihak lain. Bahkan, ia akan rela menolong orang yang tertindas. Bertolak dari pemikiran ini, maka kepercayaan diri merupakan salah satu nilai yang terkandung dalam seni bela diri Silambam.

Mempelajari seni bela diri Silambam, sebagaimana mempelajari seni bela diri lainnya, memerlukan kedisiplinan, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap aturan-aturan persilatan. Tanpa kedisiplinan diri dan taat serta patuh kepada aturan-aturan persilatan mustahil jurus-jurus dan teknik-teknik yang ditekuni dapat dikuasai dengan sempurna. Malahan, bukan hal yang mustahil dikeluarkan dari perguruan. Ini artinya, kedisiplinan merupakan salah satu nilai yang terkandung dalam seni bela diri Silambam.

Perguruan seni bela diri Silambam adalah suatu keluarga besar. Artinya, orang-orang yang belajar di perguruan tersebut, satu dengan lainnya, menganggap tidak hanya sebagai saudara seperguruan tetapi juga teman seperguruan. Sebagai seorang saudara dan seorang teman tentunya akan tidak saling menyakiti, tetapi justeru saling tolong-menolong. Bahkan, rela berkorban demi kebaikan dan atau keselamatan teman. Bertolak dari pemikiran itu, dan ini sering terjadi di kalangan mereka, maka kesetiakawanan merupakan salah satu nilai yang terkandung dalam seni bela diri Silambam.

Untuk “mengasah” ilmu silat setiap muridnya, pada umumnya di dalam sebuah perguruan silat diadakan latih-tanding dan pertandingan. Dalam latih-tanding atau pertandingan tersebut, tentu diperlukan adanya sikap dan perilaku yang sportif dari para pelakunya, sebab akan ada orang yang kalah dan menang. Nilai sportivitas tercermin dari pelaku Silambam yang kalah akan mengakui keunggulan lawan dan menerimanya dengan lapang dada. Oleh karena itu, sportivitas merupakan salah satu nilai yang terkandung dalam seni bela diri Silambam. (AG/bdy/48/7-07)

Sumber:
http://asrul-manjoi.blogspot.com.
http://www.geocities.com.
Silambam 1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar